Skip to main content

Wanita Hendaknya Tidak Riya dalam Berinfak

Qur'an Kemenag - Wanita Hendaknya Tidak Riya dalam Berinfak

Abu Zar Ra. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Ada tiga golongan orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah di hari Kiamat, bahkan Allah tidak akan melihat dengan rahmat-Nya pada mereka, mereka tidak dibersihkan dan mereka mendapat siksa yang sangat pedih, yakni orang yang selalu mengungkit-ungkit pemberiannya; orang yang menurunkan kain di bawah mata kaki; dan orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu." (HR Muslim).

Sebagaimana batalnya amal orang yang berniat riya, demikian pula sedekah orang yang mengungkit-ngungkit sedekahnya atau menghina orang yang disedekahi. Orang yang riya ingin dikenal sebagai dermawan atau senang dengan sanjungan orang lain, bukan untuk mencari keridaan Allah, maka amalannya sia-sia. Karena itu, Allah mengingatkan dengan ayat ini dan memberikan perumpamaan bagi orang bersedekah dengan riya, mengungkit-ungkit sedekahnya, atau menghina orang yang disedekahi ibarat batu marmer yang halus, di atasnya ada tanah. Tiba-tiba ada hujan lebat. Tanah itu tersapu bersih. Batu itu pun kembali menjadi halus dan licin.

Demikianlah amal perbuatan orang yang tidak ikhlas kepada Allah, hilang sia-sia, sehingga mereka kelak tidak akan mendapatkan apa-apa di sisi Allah dan Allah tidak memberi hidayah kepada kaum kafir. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'anul Al-'Azim, Jilid 1, 1996: 326).

Cara untuk menghindari riya di antaranya dengan mujahadah (bersungguh-sungguh). Apabila Anda sebagai wanita merasakan kehadiran riya dalam diri, segera luruskan niat dan lawan dorognan untuk mendapat pandangan makhluk. Memang akan terasa berat awalnya, tetapi akan terasa ringan akhirnya. Selanjutnya, ia mesti mencabut akar-akar riya, menolak manisnya sanjungan, dan segera mengembalikan segala sanjungan kepada Allah. Jangan tertipu dengan sanjungan. Bisa jadi sebenarnya kita lebih buruk dari isi sanjungan tersebut. Jangan sampai rasa ujub menghinggapi diri kita. Jangan terpengaruh dengan celaan sehingga berambisi untuk membuktikan sesuatu kepada makhluk. (Sa'id Hawwa, Mustakhlas Fi Tazkiyatil Anfus, 1995: 169).

Comments