Yakub bin Ishak bin Ibrahim (Israil) adalah seorang Nabi. Berita gembira tentang kelahirannya disampaikan para malaikat kepada kakek dan neneknya, Ibrahim dan Sarah. Allah Swt. juga menyebutkan wasiatnya saat ia meninggal. Melalui wasiatnya itu, kita dapat mengetahui tingkat ketakwaannya. Kematian adalah suatu bencana yang akan menghancurkan manusia. Penderitaan sakaratul maut akan membuatnya lupa pada namanya sendiri. Namun, Nabi Yakub tidaklah demikian. Saat kematian menjemputnya, beliau berdoa kepada Allah Swt.
Percakapan antara Nabi Yakub As. dan anak-anaknya saat menjelang kematian adalah peristiwa yang sangat besar dan sarat makna. Apakah yang diperbincangkan Yakub sehingga membuatnya tenang saat menghadapi sakaratul maut? Yakub bertanya, "Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?" Pertanyaan itulah yang sangat merisaukan beliau saat menghadapi sakaratul maut, yaitu masalah keimanan kepada Allah Swt. Hal inilah yang membuat beliau mengumpulkan anak-anaknya. Mereka pun menjawab, (...Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishak, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya berserah diri pada-Nya.)
Mereka telah mengetahui agama mereka. Mereka pun menerima dan memelihara warisan itu. Hal inilah yang menenangkan dan melegakan hati Yakub. Demikian pula wasiat Ibrahim kepada anak-anaknya senantiasa terpelihara di kalangan anak-anak Yakub. Inilah penegasan dan kesaksian dari Allah bahwa hakikat agama Ibrahim adalah tauhid yang murni yang berbeda jauh dengan keyakinan Ahli Kitab dan kaum musyrikin. Sesungguhnya terdapat kesamaan antara akidah Ibrahim, Ismail, Yakub, hingga Muhammad Saw. Akidah ini juga sangat relevan untuk menegaskan kesatuan agama Allah, kesinambungannya melalui semua utusan-Nya. Dengan demikian, semua argumentasi Yahudi tentang pengelabuan dan penyesatan telah terpatahkan. Begitu pula hubungan antara Yahudi dan bapak mereka, Israil (Yakub), telah terputus. (Sayyid Qutb, Fi Zilalil Qur'an, Jilid 1, 2000: 181).

Comments
Post a Comment