Skip to main content

Orang-Orang yang Kurang Akal

Qur'an Kemenag - Orang-Orang yang Kurang Akal

Dalam ayat ini, yang dimaksud dengan (Orang-orang yang kurang akalnya...) ialah orang-orang Yahudi. Merekalah yang menyulut keributan yang dipicu peristiwa pemindahan kiblat kaum muslimin dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram.

Dari Barra bin Azib Ra., ia berkata, "Pertama kali datang ke Madinah, Rasulullah Saw. singgah di rumah kakek-neneknya atau paman-pamannya dari kalangan Ansar. Rasulullah Saw. salat menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulan, tetapi beliau merasa senang jika kiblatnya dialihkan ke arah Baitul Haram. Salat yang peratama kali dilakukan Rasulullah Saw. (yang menghadap ke Baitul Haram) adalah salat asar bersama orang-orang. Kemudian salah seorang yang salat bersamanya keluar melewati penghuni masjid yang sedang rukuk. Lalu orang ini berkata, "Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku telah salat bersama Rasulullah menghadap Ka'bah," lalu mereka berputar ke arah Baitul Haram dalam keadaan rukuk. Ketika Rasulullah Saw. mengubah kiblatnya ke Baitul Haram, orang-orang Yahudi mengingkarinya sehingga turunlah QS Al-Baqarah, 2: 144, (Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit...) Kemudian orang-orang Yahudi berkata, (..."Apakah yang memalingkan mereka (muslim) dari kiblat yang dahulu mereka (berkiblat) kepadanya?"...) (HR Malik, Bukhari, Muslim, dan Tirmizi).

Kaum Yahudi, musyrikin, dan munafik yang mengingkari pengalihan kiblat disebut oleh Tuhan sebagai "orang-orang yang kurang akal (sufahaa)". Mereka menanyakan alasannya. Nabi Muhammad Saw. diperintahkan Allah untuk menjawabnya dengan mengatakan bahwa semua arah adalah milik Allah. Dia menentukan suatu kiblat bagi kaum muslimin untuk mempersatukan mereka dalam beribadah. Orang-orang yang kurang akal telah menjadikan batu-batu dan bangunan-bangunannya sebagai fondasi dasar agama. Padahal, kelebihan dan keutamaan suatu arah bukanlah karena ada bangunan di sana, melainkan karena telah dipilih dan ditentukan oleh Allah Swt.

Pada akhir ayat ini, Allah Swt. menegaskan bahwa Dia memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mematuhi dan menaati perintah Allah (baik laki-laki ataupun perempuan), maka dia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. (Sayyid Qutb, Fi Zilalil Qur'an, Jilid 1, 2000: 283).

Comments