Skip to main content

Fir'aun Membiarkan Hidup Anak Wanita dan Membunuh Anak Laki-Laki

Qur'an Kemenag - Fir'aun Membiarkan Hidup Anak Wanita dan Membunuh Anak Laki-Laki

Ahli tafsir menyepakati bahwa Israil adalah Yakub bin Ishak bin Ibrahim As. Bani Israil adalah sebutan untuk anak cucunya. Allah Swt. memberi mereka keutamaan dengan banyaknya di antara mereka yang menjadi Nabi. Mereka juga mendapatkan kenikmatan-kenikmatan dunia, termasuk ketika Allah Swt. menyelamatkan dari kejaran pasukan Fir'aun setelah hidup di tengah-tengah kebengisan Fir'aun yang membiarkan anak perempuan hidup dan membunuh anak laki-laki yang lahir. Menurut dukun-dukun Fir'aun, kalau anak laki-laki dibiarkan hidup, kelak akan mengancam kekuasaannya.

Rasulullah Saw. bersabda, "Memaki-maki orang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekafiran." (HR Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah).

Hadis lain menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Lenyapnya dunia ini lebih ringan dalam pandangan Allah daripada membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang benar." (HR Ibnu Majah).

Fir'aun telah menghilangkan hak hidup anak laki-laki. Perbuatannya telah melampaui batas. Hanya Allah yang berhak menghidupkan dan mematikan seseorang. Sehebat apa pun manusia, ia tidak berhak melakukannya. Segala sesuatu terjadi berdasarkan kehendak-Nya.

Kezaliman dan kefasikan Fir'aun hakikatnya adalah ujian dari Allah Swt. Tujuannya untuk menumbuhkan kesadaran dalam diri mereka bahwa ujian merupakan bentuk tempaan dari-Nya. Segala persoalan hidup akan terasa ringan ketika ujian dijadikan bekal pengetahuan, dijalani dengan penuh kesabaran, terus memohon kepada-Nya agar diberi jalan keluar, dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Allah Maha luas ilmu-Nya. Dialah yang lebih mengetahui segala sesuatu yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Ayat ini kembali mengingatkan kita akan tabiat Bani israil yang selalu kufur terhadap nikmat yang Allah berikan. Mereka selalu menyimpang dari kebenaran dan tidak mau mengambil hikmah dari ujian hidup. Hikmah kisah ini, yaitu agar setiap ujian kehidupan dapat disikapi dengan tepat. (Sayyid Qutb, Fi Zilalil Qur'an, Jilid 1, 2000: 70)

Comments